Urang Champa Dari IndoChina
Budaya & Seni
February 21, 2026
Jon Afrizal

Perempuan Champa. (credits: Wiki Commons)
“Sesuai dengan perintah Datuk Rangga Keramat, kami hanya datang untuk memetik bunga Jamin. Namun, kami melihat perahumu rusak parah, dan engkau tidak ingin bertandang ke tempat tinggal kami. Kami pun bertanya, dari negeri mana engkau berasal?” – Ritual Raja Praong
TAMBO Minangkabau, yakni sebuah mitologi tengang asal usul dan adat Minangkabau, telah menceritakan tentang suatu kejadian. Yakni ketika Sri Maharaja Diraja, yang adalah anak dari Iskandar Zulkarnain, melakukan pelayaran ke tenggara, ke pulau Jawa Alkibri.
Kapal mereka yang rusak terpaksa mendarat di Labuhan Si Tembaga, yang berada di Pulau Sirangkak Nan Badangkang. Lalu, empat orang penjaga berusaha memperbaiki kapal.
Keempatnya, adalah; Harimau Campo, Anjing Mualim, Kambing Hutan, dan Kucing Siam. Pada akhirnya, karena kapal rusak parah dan tidak dapat diperbaiki, mereka membangun pemukiman, yang disebut dengan Lagundi nan Baselo.
“Harimau Campo”, kemudian diketahui adalah pendatang dari negeri Champa. Dan, namanya menginspirasi Silek Tuo Minangkabau, Silek Harimau (Silat Harimau).
Yakni, silat dengan pola pertempuran, yang bertujuan untuk mengalahkan musuh secepat mungkin.
Lantas, dari manakah “Harimau Campo” berasal?

Suatu perayaan Urang Champa. (credits: Wiki Commons)
Kerajaan Champa adalah sekumpulan negeri yang berada di Vietnam tengah dan selatan saat ini. Kerajaan ini telah ada sejak abad ke 2 M hingga tahun 1832.
Nama lain untuk Champa adalah; Nagaracampa, Chiem Thanh (Vietnam), Zhancheng (China), dan, al-Arab (Arab).
Nama Champa, berkemungkinan, berasal dari kata Sansekerta, yakni “campaka” (Magnolia champaca). Yakni bunga berwarna kuning yang dikenal dengan baunya yang wangi dan harum.
Beberapa catatan menyebutkan bahwa Urang Champa di masa awal adalah evolusi dari budaya Austronesia Chamic Sa Hu-nyanh. Mereka berada di lepas pantai Vietnam saat ini, dan akhirnya menuju ke daratan IndoChina.
Urang Champa telah memiliki sistem jaringan perdagangan di banyak wilayah. Mereka juga terhubung dalam perdagangan maritime Samudra Hindia dan Asia Timur, setidaknya hingga abad ketujuh belas. Dan, Kerajaan Champa pun memiliki hubungan yang erat dengan Sriwijaya. Hubungan berbentuk perdagangan, budaya dan juga pengaruh agama.
Selain tertera di “Tambo Minangkabau”, catatan sejarah Indonesia, yakni “Babad Tanah Jawi” juga menjelaskan tentang Ratu Dwarawi, seorang putri Muslim dari kerajaan Champa. Ratu Dwarawi lah, yang kemungkinan memberi pengaruh Islam kepada suaminya, Kertawijaya.
Kertawijaya adalah raja ke-tujuh Majapahit. Karena pengaruh Ratu Dwarawi ini, seluruh keluarga kerajaan memeluk Islam. Dan, pada akhirnya, seluruh wilayah Majapahit pun memeluk Islam.
Makam Ratu Dwarawi berada di Candi Trowulan, Mojokerto, Provinsi Jawa Timur.

Perempuan Champa sedang menari. (credits: Wiki Commons)
Bahasa Champa adalah bagian dari keluarga bahasa Austronesia. Bahasa Champa diisi oleh begitu banyak kata-kata pinjaman dan istilah yang dipengaruhi oleh banyak bahasa lain. Termasuk juga kata-kata dari bahsa Melayu dan Arab.
Selain itu, Maulana Malik Ibrahim (Ibrahim as-Samarkandy) beristeri Dewi Candrawulan. Yakni, saudara perempuan Ratu Dwarawati.
Dari pernikahan itu, lahirlah Sunan Ampel (Pangeran Rahmat). Sunan Ampel lahir di Champa pada tahun 1401 M. Ia datang ke Jawa pada tahun 1443 M, dengan tujuan untuk mengunjungi bibinya, Ratu Dwarawi.
Pun juga terdapat bukti bahwa Urang Champa pernah mendarat di Aceh pada abad ke-15 M, dan memiliki keturunan.
Urang Champa, kini, adalah satu dari 54 kelompok etnis di Vietnam. Dengan adat dan tradisi, yang kental dengan pengaruh Melayu. Dan juga, saling mempengaruhi antar kedua budaya; Champa dan Melayu.
“Ritual Raja Praong”, misalnya, adalah kidung puji-pujian antara Champa dan Melayu. Hubungan yang intens terjadi, sepanjang abad ke-17 hingga abad ke-19.*
