Menjembatani Gap Pengetahuan Medis

Hak Asasi Manusia

February 3, 2026

Jon Afrizal/Bungku, Batanghari

Pelaksanaan Posyandu bagi anak dan balita Orang Batin Sembilan. (credits: Jon Afrizal/amira.co.id)

Masyarakat arus utama kerap menganggap pengetahuan indigenous people sebagai “Sistem Pengetahuan Yang Tidak Diakui”. Meskipun, senyatanya, pengetahuan mereka sangat kompleks dan rumit, yang meliputi; ekosistem, teknik konservasi, dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

KAMIS (29/1), sejak pukul 09.00 WIB sekitar 30-an; balita, anak dan perempuan dewasa berkumpul di klinik “Maju Besamo” di kawasan Hutan Harapan. Puluhan buah balon gas tertempel di dinding, dan juga makanan kecil pun tersedia. Persis acara ulang tahun.

Hari ini adalah pelaksanaan Posyandu. Dan 30-an warga Batin Sembilan itu berasal dari empat kelompok Orang Batin Sembilan; Kelumpang, Simpang Macan Luar, Tanding dan Gelinding.

Mereka adalah Orang Batin Sembilan yang telah memanfaatkan fasilitas kesehatan yang diberikan oleh Klinik “Maju Besamo”. Setiap bulan, mereka datang ke klinik untuk memeriksakan anak-anak mereka.

Hari ini, mereka tengah menunggu kedatangan dokter dari Puskesmas Penerokan, Kabupaten Batanghari. Pelaksanaan Posyandu dilakukan per satu bulan sekali.

Meskipun, kedatangan dokter umumnya per tiga bulan sekali. Maklumlah, jarak tempuh dan waktu tempuh ke kawasan hutan kerap menjadi hambatan.

Setelah warga berdatangan, setiap warga didata terlebih dahulu oleh tim medis dari PT Restorasi Ekosistem Indonesia (Reki) selaku pengelola “Hutan Harapan”. Anak dan balita yang datang disesuaikan datanya dengan buku “Tumbuh Kembang” yang dipegang oleh tim medis. Juga, tim medis menimbang berat berat badan, mengukur tinggi, lingkar kepala dan seterusnya.

Ketidakmampuan warga untuk membaca dan menulis, juga ketelatenan mereka untuk memelihara buku itu telah membuat kerja ekstra dari tim medis. Pola hidup warga Batin Sembilan yang semi nomaden juga patut dipertimbangkan.

Pola Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) juga adalah persoalan bagi warga Batin Sembilan. Budaya mandah (mencari sesuatu di hutan) yang sering mereka lakukan menyebabkan mereka berada jauh dari perkampungan.

Ada gap di sini, ketika mereka yang terbiasa dengan pola budaya semi nomaden terpaksa harus “berada” di dunia modern. Dengan prinsip keteraturan yang berbeda dengan yang mereka pahami.

Sekitar pukul 10.00 WIB para dokter berdatangan. Satu orang dokter umum, dan, satu orang dokter gigi.

Pelaksanaan Posyandu bagi anak dan balita Orang Batin Sembilan. (credits: Jon Afrizal/amira.co.id)

Satu orang dari tim dokter me-record video keadaan dengan smartphonenya, yang berposisi potret. Mungkin saja untuk laporan ke dinasnya.

Klinik ini, adalah untuk karyawan PT Reki. Tapi, sebagai bentuk tanggungjawab sosial, tentu saja warga Batin Sembilan diperbolehkan berobat ke klinik.

Umumnya, keluhan warga adalah batuk dan pilek, atau, Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA). Terdata sekitar 30 pasien dengan keluhan yang sama setiap bulannya.

Terkait pengobatan, Susani, Koordinator Klinik Kesehatan “Maju Besamo” dari PT Reki mengatakan bahwa pihak klinik memang menganjurkan penggunaan obat dari tumbuhan herbal sebagai pendahulu bagi Orang Batin Sembilan. Ini karena untuk meminimalkan resistensi terhadap penggunaan obat kimia modern.

Namun, katanya, jika penyakitnya belum sembuh selama 24 jam sejak minum atau mengkonsumsi obat dari tumbuhan herbal, maka masyarakat Orang Batin Sembilan diminta untuk segera pergi ke klinik.

Dan, klinik kesehatan akan menyediakan obat-obatan yang wajar, dengan dosis yang sesuai dengan masyarakat Orang Batin Sembilan, yang kurang memiliki pengetahuan pengobatan medis tentang mengkonsumsi obat-obatan kimia modern.

“Namun, jika setelah tiga hari penyakitnya belum sembuh, maka sebagai tambahan, kami akan memberikan antibiotik,” katanya.

Jika setelah enam hari penyakit tersebut masih berlanjut, tentu saja, sesuai aturan, akan dirujuk ke pusat kesehatan terdekat, yakni, Puskesmas Panerokan.

Yu Nani, seorang warga Batin Sembilan dari kelompok Simpang Macan Luar mengatakan, selama ini obat-obat herbal kerap mereka lupakan. Warga, katanya, lebih memilih menggunakan obat-obatan instant yang tersedia di warung terdekat.

Perempuan Orang Batin Sembilan mendapatkan obat medis. (credits: Jon Afrizal/amira.co.id)

“Sekarang, kami mulai mengumpulkan obat-obat herbal kembali,” katanya.

Beragam jenis daun dan akar-akaran hasil pengetahuan dari generasi ke generasi kembali mereka gunakan. Umumnya, daun dan akar-akaran itu mereka oleh dengan cara direbus, untuk kemudian diminum.

Biasanya, obat-obatan herbal ini mereka gunakakn untuk beberap penyakit. Seperti, demam, pans tinggi, malaria, dan juga berfungsi sebagai sejenis multi vitamin.

Tumbuhan herbal, mengutip Halodoc, adalah tumbuhan yang dipercaya memiliki berbagai kandungan vitamin dan mineral. Tujuannya adalah membantu mengatasi berbagai keluhan kesehatan.

Meskipun telah digunakan turun temurun, tapi jika tidak digunakan secara tepat, tanaman berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan.

Terkait tumbuhan sebagai pengetahuan lokal, Enioluwa Jonathan Ijatuyi dalam penelitian berjudul “Integration of indigenous knowledge with scientific knowledge: A systematic review” menyatakan bahwa masyarakat arus utama kerap menganggap pengetahuan indigenous people sebagai “Sistem Pengetahuan Yang Tidak Diakui”. Meskipun, senyatanya, pengetahuan mereka sangat kompleks dan rumit, yang meliputi; ekosistem, teknik konservasi, dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Kurangnya pengakuan terhadap indigenous knowledge (pengetahuan lokal) telah menyebabkan marginalisasi indigenous people. Dimana mereka sering dianggap kurang berpengetahuan jika dibandingkan masyarakat urban atau teknologi.

Sehingga, dibutuhkan pendekatan antropologi, terkait budaya untuk membantu menjembatani kesenjangan ini dengan memahami nilai dan simbol, dan “relasi kuasa” antara indigenous people dengan masyarakat modern.

Dan, menjadi penting untuk melakukan indigenous knowledge revival (pembaruan pengetahuan). Dengan tujuan untuk mengintegrasikan pengetahuan adat ke dalam proyek pembangunan dan konservasi karena efektif dalam memandu praktik keberlanjutan.*

Share:
avatar

Redaksi