Realita; Restoran Tipuan, Dan Orang Percaya

Lifestyle

February 23, 2026

Jon Afrizal

Poto menu yang “sebenarnya” yang seharusnya disajikan di website The Shed At Dulwich. (credits: Vice)

Oobah Butler menghabiskan waktu enam bulan dengan meminta teman-teman untuk memposting ulasan palsu agar restaran palsu The Shed At Dulwich mendapat tempat teratas sebagai restoran nomor 1 dari 18.149 restoran di London, di TripAdvisor.

BEGINILAH realita yang menyakitkan. Ketika, apapun yang tertera di internet dianggap sebagai kebenaran, dan pada kenyataannya adalah tipuan, namun, orang tetap percaya.

“Dalam iklim misinformasi saat ini, dan masyarakat bersedia untuk percaya omong kosong, apakah restoran palsu adalah mungkin?” Demikian Oobah Butler menulis pengakuannya pada Vice.

Itulah yang menjadi misi Butler. Dengan bantuan ulasan palsu, kebohongan dan omong kosong, ia pun mengubah gudangnya menjadi selayak restoran peringkat atas di London, yang menyajikan makanan kelas atas.

Dalam waktu singkat, restoran yang dibuatnya, yakni The Shed At Dulwich, menjadi restoran nomor 1 di London menurut peringkat TripAdvisor.

Padahal, gudang milik Butler ini, sebenarnya, adalah suatu tempat dengan alamat yang tidak jelas yang berada di London Selatan. Yang menurut situsnya, adalah di Friern Road. East Dulwich. SE22.

Mengutip laman The Shed At Dulwich, “restoran khusus penunjukan“ ini memulai debutnya pada bulan November 2017. Restoran ini tidak memiliki menu makanan “tradisional” pada umumnya.

Poto menu yang “sebenarnya” yang seharusnya disajikan di website The Shed At Dulwich. (credits: Vice)

Melainkan, restoan ini menyajikan menu berupa mood (suasana hati).

Pelanggan dapat memilih menu mana yang sesuai dengan suasana hatinya pada hari ini. Dan, dan chef The Shed yang akan menafsirkan itu.

Lantas, mengapa The Shed dapat menjadi restoran nomor 1 di TripAdvisor. Sementara, restoran ini tidak memiliki bintang Michelin, dan tidak dikelola oleh seorang chef yang terkenal.

Namun, ulasan dari seorang pelanggan di TripAdvisor menyebutkan, bahwa restoran ini memiliki kualitas yang “fantastis” dan menyatakan bahwa “Kami akan datang lagi”.

Padahal, retoran ini tidak pernah benar-benar ada.

Butler, si pencipta restoran palsu itu, mengubah kebunnya sebagai trik tipuan di website TripAdvisor. Meskipun, bahkan, tidak ada seorang pelanggan pun yang pernah makan di sana.

Setelah menjadi sangat populer di website TripAdvisor, Butler yang sewaktu itu berusia 26 tahun, pada akhirnya memang harus membuka restoran, dan menyambut para pelanggan pada tanggal 1 November 2017.

Yakni, setelah “kerja keras” melakukan trik dan tipuan internet di TripAdvisor.

Dan, rumitnya, pelanggan yang datang pun percaya, bahwa The Shed adalah benar-benar restoran seperti realita.

Poto menu yang “sebenarnya” disajikan di website The Shed At Dulwich. (credits: Vice)

Sebelum menjadi restoran nomor 1, Butler telah membuat website theshedatdulwich, dengan ekstensi domain com (komersial). Restoran yang ditampilkan pada website komersil ini menawarkan konsep yang menarik perhatian.

Dimana, hidangan yang disediakan dinamai sesuai suasana hati.

Padahal, photo “makanan yang terlihat menggugah selera” yang ada di website itu sebenarnya adalah; berasal dari serbuk pemutih, foam cukur, dan cat, dan juga bagian kakinya sendiri. yang, kemudian photo itu diedit dan dicrop agar sesuai selera. Wow.

Buku Oobah Butler “How to Bullsht Your Way to Number 1”. (credits: Ebay)

Awalnya, The Shed berada pada peringkat 18.149 (: restoran terburuk di London). Lalu, Butler meminta teman-temannya untuk menulis ulasan, dan mengatakan hal-hal seperti: “Rasa yang bersahaja” dan “Kesegaran makanan adalah sesuatu yang lain”.

Dan, tanpa di sadari, seorang pereview makanan pun mulai mereview The Shed.

Setelah itu, Butler meninggalkan teleponnya di rumah seorang kawan. Dan, setelah itu, ratusan telpon masuk.

Butler mengirimkan pesan, bahwa “Kami sudah penuh”, dan sejenisnya.

Perlahan tapi pasti, tipuan ini berhasil, dan The Shed menjadi restoran nomor 1 di London, di TripAdvisor.

Enam bulan setelah ia memulai proyek kebihinga itu, dan The Shed telah menjadi restoran nomor 1 di London di TripAdvisor, pada 1 November 2017, Butler tidak punya pilihan, dan ia harus melayani pelanggan nyata.

Tamu yang datang dan melihat menu, pada malam tanggal 1 November 2017. (credits: Vice)

Malam itu, lalu, ia mengisi setengah meja dengan temannya. Sembarai berbicara dengan keras dan lantang tentang betapa lezatnya makanan The Shed itu. Sementara DJ bermain di restoran, ehm, gudang itu.

Pengunjung hanya memiliki dua pilihan menu makan malam; Truffle Mac n Cheese dan Once-in-a-Lifetime Vegetable Lasagn. Masing-masing dengan harga GBP 31 per menu.

Seorang pelanggan pun pergi dengan rasa marah. Dan yang lain mengatakan mereka ingin datang lagi.

Dua pekan setelah kunjunga pelanggan nyata itu, restoran palsu itu dihapus dari daftar restoran TripAdvisor.

Seorang juru bicara TripAdvisor, mengutip The Times, menyatakan bahwa tidak ada insentif bagi siapa pun di dunia nyata untuk membuat restoran palsu. Sehingga, The Shed bukanlah contoh dunia nyata.

Berdasarkan pengalaman ittu, Oobah Butler kemudian menuliskannya dalam buku berjudul “How to Bullsht Your Way to Number 1”.

Dengan pesan yang jelas, bahwa: algoritma, rating, dan pencitraan dapat membentuk realitas palsu, dan semua orang dengan senang hati mempercayainya.*

Share:
avatar

Redaksi