Munculnya Cucu Krakatau?
Inovasi
September 26, 2026
Zulfa Amira Zaed

Anak Krakatau. (credits: Google Photos)
SETELAH erupsi Anak Krakatau awal September 2026 lalu, kini, muncul dua gumuk daratan yang terdeteksi di sekitar Anak Krakatau. Masing-masingnya berada di sektor barat laut dan tenggara.
“Kemunculan daratan baru ini adalah proses sedimentasi vulkanik yang lumrah di kawasan gunung api aktif,” kata anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono, mengutip Kompas, Jumat (25/9).
Namun, katanya, secara sains, tidak boleh buru-buru menyebutnya dua pulau baru, terlebih lagi menyebutnya sebagia cucu Krakatau. Sebab, kedua daratan itu adalah hasil akumulasi material erupsi yang mencapai perairan dangkal, dan selanjutnya muncul di atas muka laut.
“Diperlukan verifikasi lapangan, pemetaan batimetri, citra satelit berulang, serta data vulkanologi untuk memastikan kedua daratan itu hanya endapan vulkanik atau berkaitan dengan pusat erupsi tertentu,” katanya menegaskan.
Ada tiga syarat utama, katanya, yang harus dipenuhi suatu daratan dapat dikategorikan sebagai gunung api baru. Pertama, daratan itu harus memiliki saluran magma mandiri yang terhubung langsung ke dapur magma melalui rekahan baru, terpisah dari kawah induknya.
Kedua, daratan itu harus menghasilkan aktivitas erupsi magmatik sendiri dengan memuntahkan magma atau gas dari kawahnya. Dan bukan sekadar menampung muntahan dari gunung tetangga.

Munculya daratan baru di sekitar Anak Karakatau. (credits: Ist)
Ketiga, daratan itu harus terdapat struktur geologis serta deformasi sendiri. Yakni adanya aktivitas gempa vulkanik lokal atau pembengkakan tanah yang terpusat tepat di bawah daratan baru tersebut.
“Kemunculan daratan baru ini adalah proses sedimentasi vulkanik yang lumrah di kawasan gunung api aktif,” ucapnya.
Terkait hilangnya lima jurnalis, pemandu wisata dan awak Arupadu I saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau, Polda Banten telah mengidentifikasi identitas jasad korban seorang pria yang ditemukan di Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu. Jasad ini adalah jasad Surakman (50), anak buah kapal (ABK) Arupadhatu I.
“Jasad korban teridentifikasi karena cocok dengan DNA anaknya, Yayat,” kata kata Kapolda Banten Irjen Hengki, mengutip Detik, Rabu (23/9).
Setelah jenazah ditemukan di Pulau Enggano, Sabtu (12/9), Polda Bengkulu langsung berkoordinasi dengan Polda Banten untuk mengidentifikasi jenazah. Selanjutnya, data antemortem dan posmortem dari delapan keluarga rombongan jurnalis yang hilang, diidentifikasi oleh Tim DVI.
Dari hasil pemeriksaan DNA, ditemukan kecocokan jenazah korban dengan salah satu keluarga. Sehingga, dari delapan korban, tujuh korban masih berstatus “Hilang”.
Adapun proses pencarian terhadap delapan orang itu, telah dihentikan pada hari ke-10, Kamis (17/9). Tetapi, jika muncul informasi baru, operasi SAR dapat dibuka kembali.*
