Antara Bayt al-Hikma dan Amazon

Inovasi

September 21, 2026

Junus Nuh

Lukisan “Siege of Baghdad” oleh Khem Karan. (credits: Saint Louis Art Museum/World History)

“Ketika orang-orang Mongol datang ke Baghdad pada tahun 1258, mereka membakar perpustakaan, dan melemparkan begitu banyak buku ke Sungai Tigris sehingga air menjadi hitam karena tinta.” Abdulsalem Abdulkareem, pustakawan al-Qadiriyya

PERPUSTAKAAN Qadiriyya di Baghdad adalah satu perpustakaan yang menyimpan koleksi-koleksi manuskrip yang berhasil diselamatkan dari pengrusakan besar-besaran yang dilakukan oleh Bangsa Mongol pada tahun 1258 M. Era yang kerap disebut dengan Masa Keeemasan Islam.

Penyerbuan yang dikenal dengan nama Siege of Baghdad atau Sack of Baghdad yang dipimpin olehHulegu, cucu dari Jengis Khan, terhadap pemerintahan Kalifah Abbbasiyah. Tercatat, 800.000 jiwa tewas dalam pengepungan Baghdad kala itu.

Kejatuhan Kota Baghdad, juga dikenal sebagai akhir dari Masa Keeemasan Islam. Demikian menurut pemikiran tradisi Islam.

Dan, yang juga mencemaskan, adalah bahwa juga telah terjadi pengrusakan atau mungkin juga penjarahan perpustakaan di Kota Baghdad. Perpustakaan yang terbesar kala itu, dikenal dengan nama Bayt al-Hikma (House of Wisdom).

Mengutip Britannica, Bayt al-Hikma didirikan di masa Khalifah Al-Ma’mun (813 M – 833 M). Seorang pemimpin yang tertarik dengan ilmu pengetahuan dan memberikan dukungan besar untuk memajukan pengetahuan dalam berbagai bidang.

Awalnya, Bayt al-Hikma adalah bagian dari gerakan penterjemahan karya-karya dari bahasa Yunani dan Suriah ke bahasa Arab. Gerakan penterjemahan ini membuka akses para ilmuan muslim kepada teks-teks asli dari sumber-sumber Yunani, Persia, dan India.

Ekmeleddin Ihsanoglu dalam buku “The Abbasid House of Wisdom; Between Myth and Reality” menjelaskan bahwa pada akhirnya gerakan penterjemahan itu menjadi gerbang bagi penelitian lanjutan terhadap ilmu matematika, astronomi, filsafat, dan kedokteran.

Beberapa saat sebelum pengepungan Mongol, Nasir al-Din al-Tisi (1201 M – 1274 M), seorang ilmuwan Persia, berhasil menyelamatkan sekitar 400.000 manuskrip, dengan membawanya ke Maragheh, di Azerbaijan barat.

Kota Baghdad didirikan pada tahun 762 M oleh al-Mansur. Ia adalah khalifah kedua dari Dinasti Abbasiyah, yang telah menggulingkan kekaisaran Umayyah.

Ilustrasi AI. (credits: PNGtree)

Manuskrip koleksi Perpustakaan Qadiriyya berlokasi di area masjid dan makam Syekh Abdul Qadir Jilani. Perpustakaan ini didirikan oleh Abu Saeed Mubarak Makhzoomi (1031 M – 1119 M), murid dari Syekh Abdul Qadir Jilani.

Perpustakaan ini menyimpan sekitar 68.000 kitab dari berbagai disiplin ilmu. Termasuk juga sekitar 2.000 naskah manuskrip yang belum dicetak.

Setelah 768 tahun dari hancurnya Bayt al-Hikma, kini di tahun 2026, gerakan penterjemahan itu, muncul kembali. Meskipun dalam versi yang berbeda, sesuai dengan perkembangan teknologi.

Mengutip laman RTL Today, pada bulan Agustus 2026, 404 Media melaporkan bahwa perusahaan industri teknologi informasi Amazon telah membeli dan memindai sekitar sekitar 1.000 judul buku langka.  Adapun tujuannya adalah untuk lebih mencerdaskan dan mengembangkan Artificial Intelligence (AI).

Sejauh ini, banyak buku tidak tersedia secara online. Sehingga AI belum berisi teks yang dihasilkan oleh buku-buku yang offline itu.

Inverstigasi 404 Media menyelipkan pelacak Airtag ke dalam buku-buku. Dan, selanjutnya mengetahui bahwa buku-buku itu dibawk ke gudang Amazon di Las Vegas untuk dipindai.

Pihak Amazon, mnegutip ArsTechnica, telah mengkonfirmasi bahwa memang benar perusahaan Amazon membeli buku-buku itu melalui saluran komersial. Dengan tujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan produk dan layanannya.

Sehingga, jika kini, banyak manusia enggan membaca dan membeli buku, maka biarlah mesin yang memindainya. Dan, kemudian, diberikan secara acak untuk manusia yang memerlukannya.

Meskipun, pengetahuan yang didapat itu semuanya hanya bersifat instant, dan tidak pernah selengkap isi dari buku yang dipindai.*

Share:
avatar

Redaksi