World Cup Dan Meningkatnya KDRT Di Inggris
Hak Asasi Manusia
July 16, 2026
Zachary Jonah

Supporter Timnas Inggris pada World Cup 2026. (credits: Getty Images)
Fanatisme dan kekerasan yang terjadi di sekitar olahraga sepakbola di Inggris, yang kerap disebut sebagai budaya Hooligan, tercatat telah terjadi sejak tahun 1314 M. Yakni ketika Raja Edward II melarang turnamen sepakbola antar klub.
WORLD Cup 2026, tanpa disadari, berpengaruh pada meningkatnya risiko kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Inggris. Yang terdampak, adalah; anak-anak dan remaja.
Mengutip lamanWakefield Safeguarding Children Partnership (WSCP), penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa insiden kekerasan dalam rumah tangga meningkat selama turnamen World Cup 2026. Yakni, meningkat sekitar 26 persen, ketika timnas Inggris bermain. Dan akan meningkat menjadi 38 persen jika The Three Lions, julukan Timnas Inggris, kalah.
Organisasi yang bermarkas di Burton Street, Wakefield, Inggris ini juga menyebutkan bahwa meningkatnya resiko kekerasan dalam rumah tangga akan terjadi pada hari berikutnya, apapun hasil dari pertandingan Timnas Inggris.
Data terbaru dari Kepolisian Inggris menyebutkan bahwa terjadi peningkatan jumlah panggilan pada nomor panggilan 999 (: emergency), yang terkait KDRT, pada hari-hari dimana timnas Inggris bertanding. Sehingga menempatkan permintaan tambahan pada layanan 999.
Peningkatan kekerasan dalam rumah tangga ini sering dikaitkan dengan penggunaan alkohol, emosi yang meningkat, dan pola kontrol dan penyalahgunaan, ketimbang disebabkan oleh olahraga sepakbola itu sendiri.
Di bawah Domestic Abuse Act 2021 (Undang-Undang Penyalahgunaan Domestik 2021) di Inggris, anak-anak yang melihat, mendengar, atau mengalami kekerasan dalam rumah tangga diakui sebagai korban dan memiliki hak tersendiri.

Supporter Timnas Inggris pada World Cup 2026. (credits: Getty Images)
Paparan kekerasan dalam rumah tangga dapat memiliki dampak signifikan pada anak-anak. Seperti; tekanan emosional, kecemasan dan trauma, perubahan perilaku dan presentasi, dampak pada kehadiran di sekolah, keterlibatan dan pencapaian, dan, peningkatan kerentanan jangka panjang.
Kekerasan dalam rumah tangga di Inggris, meningkatan 35 persen sejak lima tahun terakhir. Data dari West Mercia Women’s Aid (WMWA) menyebutkan bahwa pada tahun 2025, organisasi ini telah membantu sebanyak 4.142 wanita dan 407 anak-anak, dan menjangkau lebih dari 10.000 orang muda di seluruh Shropshire, Herefordshire dan Worcestershire.
“Dibalik angka-angka statistik, selalu ada perempuan atau anak yang tidak aman di rumahnya sendiri,” kata direktur eksekutif WMWA, Sue Coleman, mengutip BBC.
Menurutnya, beberapa perempuan dan anak datang untuk mendapatkan informasi dan saran kepada WMWA. Bahkan, ada juga yang datang untuk mendapatkan “rumah aman”.
Ia mengatakan pihaknya telah menanggapi lebih dari 13.760 kontak masuk melalui saluran bantuan dan layanan website pada tahun 2025. Dengan kontak masuk di website yang meningkatan 18 persen pada pengguna baru yang mencari informasi dan dukungan.
Inggris menyatakan diri dan dikenal luas sebagai tempat lahirnya sepakbola modern. Yakni pada tanggal 26 Oktober 1863 di London, ketika perwakilan dari berbagai klub berkumpul untuk menyepakati peraturan baku pertama.
Kesepakatan ini melahirkan The Football Association (FA), dan memisahkan secara resmi sepakbola dari permainan rugby.
Selanjutnya, Ebenezer Cobb Morley yang sering disebut sebagai bapak sepakbola modern, sebagai pendiri Barnes FC pada tahun 1862, telah menulis surat kepada pers yang menyarankan agar sepakbola membutuhkan satu set aturan tunggal, dan menyusun draft aturan asli pertandingan sepakbola. Sebanyak 13 poin Aturan Permainan Sepakbola yang dibuat oleh Ebenezer Cobb Morley, kemudian, diadopsi oleh FA. Demikian mengutip laman Footbal Scouting Expert.
Namun, fanatisme dan kekerasan yang terjadi di sekitar olahraga sepakbola di Inggris, yang kerap disebut sebagai budaya Hooligan, mengutip The Guardian, tercatat telah terjadi sejak tahun 1314 M. Yakni ketika Raja Edward II melarang turnamen sepakbola antar klub. Sebab, telah terjadi persaingan yang tidak sehat antar klub/desa di Inggris.

Cuplikan film “Green street Hooligan” (2005). (credits: IMDb)
Sehingga gangguan di seputar pertandingan sepakbola dikhawatirkan dapat menyebabkan kerusuhan sosial, dan bahkan dapat menyebabkan pengkhianatan terhadap raja dan kerajaan.
Dua dari kerusuhan besar sepakbola yang terjadi di Inggris, adalah; Tragedi Heysel pada tahun 1985, dan, Tragedi Hillsborough pada tahun 1989.
Tragedi Heysel 1985, mengutip Euronews, terjadi pada tanggal 29 Mei 1985 di Stadion Heysel, Brussels, Belgia, menjelang final European Cup (Piala Champions) antara Liverpool versus Juventus. Sebanyak 39 supporter, yang sebagian besar adalah supporter Juventus tewas, dan lebih dari 600 orang luka-luka, setelah supporter Liverpool menerobos pembatas dan menghancurkan tembok Stadion Heysel.
Sedangkan Tragedi Hillsborough 1989 terjadi pada tanggal 15 April 1989 di Stadion Hillsborough, Sheffield, South Yorkshire, Inggris. Tragedi terjadi ketika pertandingan semifinal FA Cup, antara Liverpool versus Nottingham Forest.
Dimana, mengutip BBC, sesaat sebelum kick-off, David Duckenfield, komandan polisi yang bertugas pada pertandingan itu memerintahkan agar gerbang keluar C dibuka, dengan tujuan untuk memudahkan bagi kerumunan penonton. Namun, dibukanya gerbang keluar C telah menyebabkan masuknya para supporter dari luar staidon.
Akibatnya, terjadi kerumunan fatal, yang telah menyebabkan 97 korban jiwa dan 766 cedera. Ini adalah tragedi terbesar dalam sejarah olahraga di Inggris.*
