Hanyutnya Mesin Dompeng Dan Kayu Gelondongan
Lingkungan & Krisis Iklim
April 30, 2026
Junus Nuh/Kota Jambi

Mesin dompeng dan gelondonagn kayu yang hanyut pada waktu banjir di Kecamatan Batang Asai Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, Minggu (26/4). (credits: Desk Disaster WALHI Region Jambi)
HUJAN yang turun tanpa jeda sejak Sabtu malam (25/4) hingga Minggu dini hari menjadi awal dari cerita panjang yang menyedihkan di hulu Kabupaten Sarolangun. Di Kecamatan Batang Asai, air Sungai Batang Asai naik dengan cepat, meluap, membawa lumpur, batang kayu, dan kecemasan yang tidak sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
Tak hanya Batang Asai, banjir juga menjalar ke Limun hingga Bathin VIII, menegaskan satu hal bahwa wilayah ini berada dalam lingkaran rentan bencana ekologis.
Di tengah arus deras itu, ada pemandangan yang tak bisa diabaikan. Gelondongan kayu tersangkut di sekitar Jembatan Beatrix datang bersama banjir, seolah membawa pesan dari hulu yang selama ini luput dari perhatian.
Desk Disaster WALHI Region Jambi dan WALHI Jambi menyatakan bahwa ini bukan sekadar kayu hanyut, melainkan penanda adanya kerusakan serius di kawasan atas Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Asai.
Banjir ini, menurut WALHI, tidak lagi dapat dibaca sebagai peristiwa alam semata. Curah hujan memang tinggi, tetapi daya rusak yang ditimbulkan mengarah pada persoalan yang lebih dalam, yaitu menurunnya daya dukung lingkungan akibat aktivitas ekstraktif yang terus berlangsung tanpa kendali, termasuk praktik Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI).
“Peristiwa ini adalah cermin dari kerusakan bentang alam di wilayah hulu,” kata Direktur WALHI Jambi, Oscar Anugrah, melalui rilis resmi dari Walhi Jambi, Senin (28/4).

Rumah yang terendam banjir, di Kecamatan Batang Asai Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, Minggu (26/4). (credits: Desk Disaster WALHI Region Jambi)
Menurutnya, banjir di Batang Asai bukan hanya peristiwa biasa. Tetapi adalah bencana ekologis yang lahir dari rusaknya wilayah tangkapan air.
Munculnya kayu-kayu yang hanyut hingga ke hilir adalah indikasi kuat bahwa kondisi hulu sedang tidak baik-baik saja.
“Kami mendesak agar ada pengusutan serius terhadap aktor-aktor yang terlibat dalam perusakan lingkungan ini,” katanya.
Nariski Andri, Koordinator Desk Disaster WALHI Region Jambi mengatakan bahwa temuan gelondongan kayu ini bukan sekadar persoalan kayu hanyut. Gelondongan kayu yang terbawa arus berpotensi memperparah dampak banjir, menyumbat aliran sungai, merusak infrastruktur jembatan, serta mengancam keselamatan warga.
“Ini adalah alarm keras bahwa ekosistem penyangga di wilayah hulu sedang mengalami tekanan,” katanya.
Sebab, bencana ekologis seperti ini akan terjadi berulang jika tata kelola sumber daya alam masih abai terhadap daya dukung lingkungan dan keselamatan rakyat. Sudah saatnya perlindungan kawasan hulu menjadi prioritas utama.
Sehingga, Desk Disaster WALHI Region Jambi bersama WALHI Jambi mendesak pemerintah untuk mealkukakn beberapa langkah. Yakni; Pemerintah Kabupaten Sarolangun, Pemerintah Provinsi Jambi, dan aparat penegak hukum untuk melakukan investigasi menyeluruh terkait asal-usul gelondongan kayu di Sungai Batang Asai.
Lalu, penanganan darurat yang cepat dan memadai bagi warga terdampak, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar, layanan kesehatan, dan distribusi logistik, dan, upaya pemulihan ekologis DAS Batang Asai melalui rehabilitasi hutan serta perlindungan kawasan tangkapan air.
Terakhir, penyusunan sistem mitigasi bencana berbasis komunitas yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam perlindungan wilayahnya.*
