Kembalinya Burung Kuau Raja
Lingkungan & Krisis Iklim
February 20, 2026
Jon Afrizal/Bungku, Batanghari

“Mahkota” dengan bulu Kuau Raja yang digunakan oleh anak Orang Batin Sembilan. (credits: Jon Afrizal/amira.co.id)
Bagi Orang Melayu Jambi, suara ku-wau dari Kuau Raja, memberi tanda masuknya waktu fajar dan untuk memulai pelaksanan sholat Subuh. Pun bunyi dari Kuau Raja itu juga dapat sebagai tanda hujan akan turun dari langit, ataupun juga alarm akan terjadinya bencana alam.
KUAU, bagi masyarakat Melayu Jambi, adalah burung yang sakral. Folklore Melayu Jambi menyatakan bahwa burung Kuau Raja (Argusianus argus) yang endemic Jambi ini adalah jelmaan seorang puteri raja dari khayangan, yang ditugaskan sebagai “penjaga” kawasan hutan.
Kesakralan ini pun tergambar pada motif batik Jambi, yakni “Kuau Berhias.”
Terkadang, Orang Melayu Jambi juga menyamakan Kuau Raja (Great Argus) dengan Merak (Pavo cristatus). Ini karena, mungkin, keduanya, adalah pheasant (familia ayam hutan), dan memiliki bulu yang mendekati sama keindahannya. Terdapat pula motif Batik Jambi, yakni “Merak Ngeram”.
Kuau Raja mengeluarkan bunyi atau kicau yang berbunyi: ku-wau. Sehingga, digunakanlah onomatope (kata tiruan bunyi) untuk menyebutkan nama jenis unggas ini.
Bagi Orang Melayu Jambi, suara ku-wau dari Kuau Raja, memberi tanda masuknya waktu fajar dan untuk memulai pelaksanan sholat Subuh. Pun bunyi dari Kuau Raja itu juga dapat sebagai tanda hujan akan turun dari langit, ataupun juga alarm akan terjadinya bencana alam.
Oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN), Kuau Raja sempat dinyatakan punah, pada 2012. Namun dievaluasi kembali menjadi vulnerable (rentan), pada tahun 2020.

Batik Jambi motif “Kuau Berhias”. (credits: Shopee)
Kuau Raja, mengutip IUCN, hidup di tempat yang terbatas, yakni di dataran rendah hingga ketinggian 1.000 meter diatas permukaan laut (mdpl) di Asia Tenggara. Seperti; Myanmar, Thailand, Sabah, Sarawak dan Semenanjung Malaysia, Brunei, Kalimantan, dan, Sumatra.
Populasi Kuau Raja mengalami penurunan yang sangat cepat dikarenakan berkurangnya hutan.
Kuau Raja adalah diurnal, yakni berperilaku aktif pada siang hari.
Sama seperti ayam (unggas), Kuau Raja tidak dapat terbang jauh. Meskipun, jika berlari sangatlah kencang. Kuau Raja juga dapat melompat dari satu dahan ke dahan yang lainnya.
Namun, untuk mencari makananan, Kuau Raja memakan buah-buahan dan biji-bijian yang telah jatuh ke tanah. Termasuk juga beragam siput, semut dan serangga.
Terdapat perbedaan pada Kuau Raja. Kuau jantan bertubuh lebih besar, jika dibandingkan Kuau betina.

Anak Batin Sembilan dengan “mahkota” bulu Kuau Raja. (credist: Jon Afrizal/amira.co.id)
Dengan berat Kuau jantan yang dapat mencapai 10 kilogram, dengan panjang dari moncong hingga ke ujung bulu sekitar 2 meter.
Kuau jantan memiliki bulu dengan corak yang lebih menarik jika dibandingkan betina. Umumnya, dua lembar bulu ekor di bagian tengah, lebih panjang dari kumpulan bulu di ekornya.
Bulunya berwarna coklat, namun dengan corak berbentuk lingkaran-lingkaran yang berwarna lebih cerah dengan bintik-bintik berwana abu-abu.
Sayangnya, dengan keterbatasan sumber data, tidak dapat diketahui secara pasti populasi Kuau Raja di Provinsi Jambi.
“Hutan Harapan” adalah kawasan hutan dataran rendah di tengah Pulau Sumatera. Sebagai hutan dataran rendah, tentu saja seharusnya menjadi tempat hidupnya Kuau Raja.
Pada Minggu (15/2), PT Restorasi Ekosistem Indonesia (Reki) selaku pengelelola kawasan “Hutan Harapan” mengadakan “Festival Kesehatan Lingkungan”. Meskipun, untuk menghibur anak-anak Orang Batin Sembilan, juga diadakan perlombaan sejenis fashion show dan mewarnai lukisan.

Kuau Raja. (credits: Hutan Harapan)
Pada fashion show yang diikuti oleh 16 peserta anak-anak Orang Batin Sembilan, terdapat seorang peserta bernama: Aliya Medika (8). Gadis kecil dari kelompok Kelumpang ini, bersekolah di kelas 2 “Sekolah Besamo”. Yakni “kelas jauh” yang dilaksanakan oleh PT Reki untuk pendidikan anak-anak Orang Batin Sembilan.
Aliya mengggunakan “mahkota” dari pelepah pinang dan tumbuhan merambat. Tepat di tengah “mahkota” terdapat sehelai bulu burung Kuau Raja.
Bulu, yang menjadi mahkota setiap Kuau jantan, sepeti yang ditulis sebelumnya.
Namun, karena keterbatasan waktu, aku tidak sempat bertanya tentang bagaimana ia mendapatkan bulu Kuau Raja itu.
Pun sebagai jurnalis, aku menghargai hak, bahwa, seorang anak, atau seseorang yang berusia di bawah 18 tahun sesuai hukum yang berlaku, tidak dapat untuk dimintai keterangan atau diwawancarai, tanpa didampingi dan mendapatkan izin orangtuanya. Ini demi memastikan agar keterangan yang didapatkan adalah benar adanya.
Dan, syarat ini bukanlah perkara mudah, yang didapat seketika. Sangat disayangkan.
Namun, setidaknya, dari “mahkota” Alya itu diketahui bahwa burung Kuau Raja belumlah punah, dan masih ada di hutan dataran rendah di “Hutan Harapan”.
Dan, temuan ini, seperti petuah greeners dan environmentalist, “… adalah saat yang tepat untuk menjaga hutan dan segala isinya.”*
