“Tangsi Belanda” Di Tepi Sungai Jantan
Jon Afrizal/Siak Sri Indrapura
AGUSTUS 2025. Ketika aku berkunjung ke “Tangsi Belanda” di Mempura, ibukota Kabupaten Siak Sri Indrapura, Provinsi Riau.
“Tangsi Belanda” ini, berada di pinggir Sungai Jantan (Sungai Siak). Sungai Siak memiliki panjang 345 kilometer, dengan tiga anak sungai besar, yakni; Sungai Tapung Kiri, Sungai Tapung Kanan, dan Sungai Mandau. Sungai Jantan bermuara ke Selat Melaka.
Tidak ada catatan yang dapat ditunjukan petugas di sana, sebagai bekal untuk “berkelana data”.
Hanya, ruangan-ruangan kosong yang memantul gema suara. Dan photo-photo hitam-putih yang terpajang, dingin, tak bersuara.
“Tangsi Belanda” berada di wilayah seberang Istana Sultan Siak. Tak berapa jauh dari sana, pun terdapat perumahan era kolonial Belanda.
Tangsi, di era kolonial Belanda, adalah bangunan militer untuk yang berfungsi sebagai markas militer, asrama (barak) tentara/polisi, dan juga penjara.
Pemerintah kolonial Belanda menjadikan wilayah Siak sebagai satu bagian dari wilayah pemerintahan Hindia Belanda, setelah memaksa Sultan Siak menandatangani perjanjian pada 1 Februari 1858. Yakni pada era Sultan Assayyidis Syarif Ismail Abdul Jalil Jalaluddin (Sultan Sayyid Ismail). Ia adalah Sultan Siak ke-10, yang bertahta pada tahun 1827 hingga 1864.
Diperkirakan, “Tangsi Belanda” di Mempura, Siak ini didirikan di era itu.
Dari perjanjian itu, Siak Sri Indrapura kehilangan kedaulatannya. Dan, lalu, dalam setiap pengangkatan raja, Siak mesti mendapat persetujuan dari Belanda.
Selanjutnya Belanda melarang Sultan Siak membuat perjanjian dengan pihak asing tanpa persetujuan pemerintahan Hindia Belanda. Pada tahun 1864, Belanda memaksa Sultan Assayyidis turun tahta.
Siak adalah kota yang penuh dengan sejarah. Kesultanan Siak telah menjadi kekuatan yang dominan di Sumatra Oostkust (pesisir timur Sumatra). Dimana pada tahun 1780, Kesultanan Siak menaklukkan daerah Langkat, dan menjadikan Langkat berada dalam pengawasannya. Juga termasuk Deli dan Serdang.
Tom Pires dalam “Suma Oriental” menyebut Siak sbagai “Pelabuhan Raja Minangkabau”. Yang, dalam catatan sejarah, Raja Kecil (Sultan Abdul Jalil Syah) yang adalah pendiri Kesultanan Siak berasal dari Pagarruyung. Raja Kecil, dalam catatan sejarah, biasa disebut dengan sebutan “Raja Kecil putra Pagaruruyung”.
Pada Sabtu, (31/1) lalu, sebagian lantai di sekitar tangga menuju ke lantai dua “Tangsi Belanda” tiba-tiba runtuh. Sewaktu itu, “Tangsi Belanda” sedang mendapat kunjungan rombongan study tour SD IT Baitul Ridho Kampung Rawang Kao, Kecamatan Lubuk Dalam Kabupaten Siak. Sebanyak 17 orang luka-luka. Di antaranya 15 siswa, satu orang guru pendamping, serta satu pemandu wisata. Sejak saat itu, “Tangsi Belanda” ditutup untuk pengunjung.*